Skip to content

KOMITMEN HIDUP HEMAT

Februari 15, 2009

 Ada hal menarik saat saya menonton acara The Oprah. The Oprah adalah acara yang cukup populer di Amerika dan juga dunia. Acara ini dipandu oleh Oprah Winfrey, seorang wanita berkulit hitam yang merupakan host/pembawa acara paling sukses sepanjang sejarah. Bayangkan Oprah sudah memandu acara itu selama belasan tahun, tak tergantikan, dan sampai sekarang acaranya masih sangat diminati. Saking ngetopnya, Oprah Winfrey termasuk dalam jajaran atas tokoh wanita paling berpengaruh di dunia. Pada pemilu Amerika Serikat lalu, Oprah adalah pendukung Barack Obama dan menjadi salah satu juru kampanye Obama yang pengaruhnya dianggap punya andil untuk menarik banyak suara untuk mendukung Obama. The Oprah, di Indonesia disiarkan oleh Metro TV setiap hari Sabtu sekitar jam 10.00 pagi.

Pada acara itu Oprah membuat tantangan kepada keluarga atau orang untuk “Hidup Sederhana” (Simple Life). Keluarga yang ikut pada acara itu diharuskan “Hidup Sederhana” selama 1 minggu dengan beberapa persyaratan. Syarat yang diajukan adalah pembatasan penggunaan listrik dengan cara membatasi penggunaan TV hanya 1 jam sehari. Selain itu, komputer juga tidak boleh digunakan kecuali untuk mengerjakan PR. Lampu-lampu harus dimatikan pada siang hari dan pada malam hari, lampu hanya dihidupkan saat digunakan. Hal lain yang dibatasi adalah tidak boleh mengkonsumsi minuman botol. Air minum bisa diambil langsung dari kran (di Amerika dan juga Eropa, air dari kran bisa langsung diminum). Larangan ini juga bermanfaat untuk menekan penggunaan plastik, karena botol yang dimaksud adalah botol dari plastik. Plastik adalah material yang tidak bisa diurai oleh tanah sehingga dianggap tidak ramah lingkungan.

Pada keluarga yang lain diberlakukan larangan tidak boleh menggunakan game player. Tidak boleh pergi ke shopping mal dan harus pergi ke sekolah menggunakan bus. Penggunaan bus lebih menghemat penggunaan BBM daripada menggunakan mobil sendiri. Ada pula seorang wanita single, berpenghasilan mapan yang karena memiliki banyak uang suka membeli apa saja yang ia inginkan. Akibatnya ia punya puluhan gaun dan sepatu yang belum tentu akan dipakainya. Kulkasnya terisi penuh oleh makanan-minuman yang belum tentu ia perlukan. Tantangannya adalah selama 1 minggu ia tidak boleh mengeluarkan uang dan harus hidup dengan apa yang ia punya di rumahnya.

Lalu apa yang terjadi? Semua peserta menjalani tantangan itu dengan tidak mudah. Seorang anak ABG yang sebelumnya sangat hobi belanja menjadi belingsatan saat di larang pergi shopping. Si anak lainnya yang terbiasa menghabiskan waktu dengan bermain komputer dan menonton TV sempat linglung karena adanya pembatasan TV dan komputer. Ada yang saking stress-nya tidak bisa bermain game, si anak menjadi suka berlari-lari keliling rumah tanpa tujuan yang jelas. Yang menjadi pengawas dari pelaksanaan tantangan ini adalah sang ayah. Sang ayah mengontrol semua aktivitas penghematan dalam keluarganya dan memastikan tidak ada larangan yang dilanggar. Ia melakukannya dengan komitmen penuh karena tidak jarang ada anggota keluarga yang melanggar.

Setelah tantangan itu selesai, Oprah bertanya apa manfaat yang mereka peroleh dari tantangan “Hidup Sederhana” itu. Jawabannya, ternyata peserta baru sadar betapa borosnya mereka selama ini. Mereka menyadari bahwa sebelumnya mereka telah banyak menghamburkan uang untuk hal yang tidak perlu. Pressure Hidup Sederhana memberi pencerahan tentang pentingnya berhemat. Tantangan Oprah menyadarkan mereka dengan tekad dan komitmen banyak hal yang bisa dihemat dari apa yang mereka lakukan sehari-hari. Bahkan si wanita mapan berkata, “Selama ini saya hanya membeli apa yang inginkan bukan apa yang saya butuhkan”. Semua peserta tetap menjalankan hidup hemat walaupun tantangan telah berakhir. Bahkan si anak kecil yang biasa main game player tidak penah bermain, tidak pernah bermain game lagi karena terbiasa.

Saya jadi terpikir, kita itu sering dibuat tidak sadar oleh kebiasaan. Coba kita melihat di departemen kita masing-masing. Pemborosan apa yang terjadi di departemen kita? Tindakan pemborosan yang kita lakukan setiap harinya? Pemborosan apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita? Tindakan apa yang kita lakukan untuk mencegah pemborosan? Berapa banyak material yang terbuang sia-sia? Sudahkah kita berlaku seperti sang ayah pada cerita di atas, yang mengontrol pemborosan dengan komitmen tinggi?

Kita bisa menarik pelajaran dari cerita di atas. Jangan terlena oleh keadaan dan kebiasaan. Kita pun bisa bertindak untuk berperang terhadap pemborosan. Semoga dari kita ada yang berkomitmen melakukan ini.

 

Banyumanik, 20 Januari 2009

Sent: Wednesday, January 21, 2009 5:55 PM

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: