Skip to content

EVALUASI, KAIZEN, DAN TAHUN BARU

Januari 22, 2009

photo by Liputan6.com

photo by Liputan6.com

Di akhir Desember 2008 ini ada dua peristiwa yang terkait dengan tahun baru. Yang pertama tahun baru Hijriah dan yang kedua tahun baru Masehi. Dua peristiwa yang merupakan hari libur nasional ini terjadi pada waktu yang hampir berdekatan, yaitu tanggal 29 Desember dan 1 Januari. Maka jadilah efek “harpit nas” alias hari kejepit nasional yang menyebabkan banyak karyawan yang memperpanjang libur di akhir tahun. Momen akhir tahun bagi banyak orang juga dijadikan momen untuk menilai apa yang telah mereka lakukan selama 1 tahun terakhir (evaluasi) dan apa yang akan mereka lakukan pada 1 tahun ke depan (resolusi). Singkat kata, di akhir tahun banyak orang melakukan evaluasi dan resolusi.

Ngomong-ngomong tentang evaluasi, maka saya jadi teringat dengan istilah yang paling terkenal dalam manajemen Jepang, yaitu kaizen. Kaizen adalah konsep perbaikan terus menerus (continuous improvement). Salah satu prinsip kaizen adalah “hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Membicarakan kaizen tentu tak lepas dari nilai historis Jepang. Sesungguhnya keberhasilan penerapan manajemen Jepang tak pernah lepas dari keterpurukan yang mereka alami sebelumnya. Saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki 15 Agustus 1945, Jepang porak-poranda dan dinyatakan kalah Perang Dunia II. Sadar bahwa negara dalam keadaan hancur karena bom atom, tak ada jalan lain, rakyat Jepang harus bangkit untuk menolong dirinya sendiri. Mereka membangun konsep manajemen. Nilai-nilai pada konsep manajemen Jepang tidak hanya merupakan teori di atas kertas, tapi juga dijadikan nilai-nilai kehidupan bagi tiap pribadi rakyat Jepang. Setiap rakyat Jepang harus terus ber-kaizen. Jika tidak, bangsa mereka tidak akan pernah bangkit dan akan terus tertinggal dari bangsa lain. Toyoda Kiichiro (1834-1952), presiden Toyoto Motor Company saat itu berkata, “Kejar Amerika dalam 3 tahun, Jika tidak, industry otomotif Jepang tidak akan bertahan.”[1]

Hasilnya, bisa dilihat sekarang ini. Jepang merajai hampir di semua sektor. Di bidang otomotif, produk Honda, Toyota , Suzuki, Mitsubishi, Nissan, atau Subaru merajai pasar otomotif dunia termasuk di Amerika. Padahal Amerika adalah pionir dalam bidang otomotif. Di bidang elektronik, nama-nama Sony, Toshiba, Panasonic, atau Sanyo adalah brand yang mendominasi pasar. Di bidang sepakbola, liga Jepang adalah liga paling gemerlap di Asia . Di bidang komik dan kartun, kita pasti mengenal Doraemon, Pokemon, Naruto, Kapten Subasa, Detektif Conan, Chinmi, atau Sincan. Komik dan kartun tersebut digemari dan mendominasi toko buku dan televisi. Tak ada yang menduga Jepang bisa sehebat ini di bidang komik dan kartun, bidang yang dulu dikuasai Amerika. Bahkan Manga yaitu teknik menggambar komik Jepang menjadi popular pula. Waktu saya kecil, komik dan kartun yang beredar adalah Superman, Batman & Robin, Kapten Marvel, Flash Gordon, Donald Bebek yang notabene produk Amerika. Di bidang fashion Jepang juga tak tinggal diam. Mode fashion harajuku menyebar ke dunia termasuk Indonesia . Band duo Ratu dan J-Rock adalah band yang sempat menganut cara berpakaian harajuku. Pendek kata, Jepang mencoba merambah semua bidang untuk menjadi nomor satu.

Salah satu telaah mengapa Jepang bisa berhasil dan sukses adalah terletak pada implementasi nilai konsep manajemen yang mereka anut. Nilai konsep manajemen itu tidak hanya diaplikasikan saat bekerja atau di kantor tapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dimanapun! Nilai itu menjadi bagian integral dalam nilai-nilai kehidupan rakyat Jepang. Tak peduli di kantor atau di rumah, rakyat Jepang tetap ber-kaizen. Mereka ber-kaizen secara sadar tanpa paksaan. Dan nilai penting dari kaizen adalah evaluasi karena prinsip kaizen bilang “hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini”. Evaluasi tanpa henti dan perbaikan terus menerus menjadi kunci sukses keberhasilan Jepang.

Terkait dengan evaluasi, sudah selayaknya kita semua melakukan evaluasi terhadap apa sudah kita kerjakan. Keikhlasan menerima kritik dan masukan adalah elemen penting dalam melakukan evaluasi diri. Sepantasnya pula, saya pun juga harus mengevaluasi diri. Mungkin ada kekurangan-kekurangan saya selama ini yang harus saya benahi ke depan. Dalam mengirim artikel saja contohnya, beberapa kali saya tidak bisa tepat waktu. Seharusnya mengirim artikel pada hari Rabu, namun kadang molor dikirim setelah hari Rabu. Ini baru satu contoh. Karenanya, ijinkanlah saya memohon maaf atas segala kekurangan yang terjadi. Mudah-mudahan, ke depan saya bisa memperbaikinya menjadi lebih baik.

Akhir kata, Selamat Tahun Baru Hijriah 1430H, Selamat Tahun Baru 2009. Semoga kita semua mampu berevaluasi dan terus ber-hijrah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Semoga kita mampu ber-kaizen secara sadar tanpa paksaan. 

 

Banyumanik, 29 Desember 2008

 [1] Ohno, Taiichi, Just in Time dalam Sistem Produksi Toyota, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, 1995

 

Sent: Wed, Dec 31, 2008 12:11 PM

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: