Skip to content

KETERBUKAAN VS PROTEKSI

Desember 16, 2008

 

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kiriman email tentang sebuah aboutnidoqubein1artikel dari Nido Qubein. Nido Qubein adalah seorang pembicara, konsultan, dan juga pengarang buku. Ia juga menjabat Presiden High Point University . Selain itu Qubein juga adalah Executive Committee sebuah institusi keuangan Amerika dan menjadi Dewan Direksi La-Z-Boy, sebuah perusahaan retailer furniture, competitor induk perusahaan kita, FBN. Berhubung terjemahan lengkap dari artikel Qubein ini sudah dimuat di Majalah TARGET edisi terbaru, maka saya mencoba membahas artikel itu dari sudut pandang lain. 

Artikel Qubein berjudul. “In Good Organization, There is No “THEM” (Tidak Ada Istilah “Mereka” Dalam Organisasi Yang Baik). Menurut Qubein, semua elemen dari perusahaan harus dianggap sebagai “kita” bukan “mereka”. Karenanya semua elemen perusahaan mempunyai hak, kewajiban, dan kontribusi yang sama dalam memajukan perusahaan. Untuk itulah diperlukan keterbukaan, open management istilahnya. Dengan manajemen terbuka (open management), maka setiap orang bebas untuk menyampaikan pendapat dan memberikan ide. Operator bisa memberikan ide kepada OpDir. OpDir juga harus terbuka dan mendengarkan ide dari karyawan. Sesungguhnya karyawan adalah orang yang paling mengetahui bidang pekerjaan yang ia geluti.

Qubein berpendapat, orang yang paling tahu tentang system encoding data adalah orang yang selalu melakukan transaksi data encoding. Orang yang paling tahu tentang operational mesin adalah para operator yang selalu mengoperasikan mesin. Maka tak heran jika ide brilian dan solusi muncul dari pikiran para karyawan sesuai dengan bidang yang ia kerjakan. Supervisor/Manager yang gagal adalah Supervior/Manager yang menutup mata dan telinga mereka terhadap keadaan dan masukan dari para karyawan yang ia pimpin. Ketika managemen gagal mengenal nilai, sikap, dan input dari bawahannya, hal ini bukan kesalahan bawahan, tapi kesalahan management.

Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat Qubein. Jika bicara teamwork maka ruang komunikasi harus dibuka. Team yang baik adalah team yang tidak bergantung pada orang/individu tapi harus bergantung pada system. Jika sebuah perusahaan bergantung pada orang, ini kondisi yang berbahaya. Kenapa? Bagaimana jika orang itu sakit, apakah perusahaan harus berhenti beroperasi? Bagaimana jika orang itu meninggal dunia, apakah perusahaannya harus tutup? Jika perusahaan bergantung pada system, ketika ada pimpinan yang sakit, wakilnya bisa menggantikannya. Jika ia meninggal dunia, sudah ada mekanisme untuk memilih pemimpin pengganti untuk menjalankan perusahaan tanpa harus khawatir perusahaan harus bangkrut. Pendiri perusahaan Sony, Gudang Garam, Sampurna sudah meninggal dunia, tapi tidak membuat perusahan tersebut juga harus “meninggal dunia” alias bangkrut.

Seperti kata Qubein, perusahaan/departemen harus terbuka terhadap masukan, baik itu solusi, ide, maupun kritik. Perusahaan/departemen yang terlalu membentengi diri dari ide dan kritik akan menjadi perusahaan/departemen yang protektif yang sifatnya merugikan diri sendiri. Jika itu yang terjadi, perusahaan itu kehilangan kesempatan untuk untuk mengetahui kelemahannya. Efeknya, perusahaan tidak mengetahui tindakan apa yang harus diambil untuk memperbaiki. Mirip seseorang yang merasa sehat, padahal ia tidak tahu bahwa tubuhnya telah diserang oleh kanker ganas hanya karena ia menutup diri terhadap pemeriksaan dan analisa dokter. Andai ia membuka diri, maka gejala kanker bisa diobati lebih dini dan lebih mudah untuk disembuhkan.

Sesungguhnya keterbukaan, masukan, dan kritik adalah signal positif yang diperlukan untuk memperbaiki diri. Tanpa itu kita akan seperti penderita familial dysautonomia, seperti artikel yang saya tulis sebelumnya. Tak pernah merasa sakit, padahal penyakit parah sudah bersarang dalam tubuh hingga akhirnya sulit untuk diselamatkan. Kita tidak boleh seperti ini!

Tanjung Emas, 22 October 2008

Sent: Friday, October 31, 2008 12:44 PM

3 Komentar leave one →
  1. F. Ratna Pujiastuti permalink
    Februari 18, 2009 6:34 pm

    Pak,

    Artikel bapak kali ini benar-benar “nendang”, karena belajar membuka diri, untuk bisa menerima kritik adalah penting terutama bagi pemimpin.

    Ini benar-benar pembelajaran untuk kita menjadi good leader.

    Sayangnya sering terjadi hampir sebagian besar pemimpin adalah penderita familial dysautonomia.

    Semoga segera ada obatnya untuk mereka agar kita bisa tetap jaya…ingat bukan hanya mereka tetapi kita.

    Regards,
    Ratna

    [FS]
    Mba’ Ratna,
    Terima kasih atas tanggapannya.
    Tidak mudah untuk menerima kritik, apalagi kritik yang menyangkut diri kita sendiri. Mengkritik jelas lebih gampang.

    Tapi saya tetap percaya, kritik itu perlu. Untuk itu ruang komunikasi harus dibuka, dengan cara bersedia untuk mendengar. Tidak terlalu defensive kalau diberi masukan. Selalu ingin benar, tidak mau disalahkan, mau menang sendiri, adalah contoh sikap yang menutup RUANG KOMUNIKASI.

    Saya juga melihat, ada beberapa orang yang merasa bangga mempertahankan diri, walaupun ia sudah jelas salah. Ada yang menganggap mengakui kesalahan di depan orang lain adalah hal yang hina atau memalukan. Sikap seperti ini membuat orang jadi malas memberi masukan. Orang berfikir, buat apa kasih masukan kepada orang yang selalu merasa benar? Faktanya, umumnya kita justru lebih menghargai orang yang bersikap sportif.

    Sifat seperti bisa jadi ada di operator, spv, spi, atau manager. Artikel ini juga menjadi otokritik buat saya pribadi

  2. Dwi Listanto permalink
    Februari 18, 2009 6:35 pm

    Pak Fadhly,

    Apa yang bisa dilakukan bila seseorang bisa bersikap sportif tapi berada dalam lingkungan yang kurang mendukung atau malah kalah oleh orang yang bertahan dengan argumen kesalahan ?

    ” KITA tidak hidup oleh pekerjaan (perusahaan) tapi KITA yang menghidupkan pekerjaan itu ” Golden Ways By Mario Teguh.

    Mohon saran,

    rgds,
    Sulis

    [FS]
    Pak Sulis,
    Tanpa bermaksud menggurui, jika seorang ustad tinggal di lingkungan pencuri, harapanya ustad ini tidak kemudian menjadi pencuri. Artinya kita harus fight dengan lingkungan kita, tidak terpengaruh dengan lingkungan yang jelek.

    Jadi usaha paling minimal adalah, tetaplah menjadi sportif di lingkungan yang tidak sportif. Ini paling minimal. Syukur-syukur kita bisa membuat orang culas menjadi seorang yang sportif.

    NB;
    Boleh juga tuh golden ways Mario Teguh. Buat temen-temen, untuk nambah-nambah ilmu, mungkin bisa lihat acaranya di metro tv tiap minggu malam jam 7.30 atau jam 8.00 malam

  3. Mei 30, 2009 1:10 am

    usul, bagaimana bila materi training ditambah 1 lagi,, ” Bagaimana cara menerima/menanggapi kritik (yang membangun )dengan iklash ”

    [FS]
    coba cari “ilham” dulu ya….🙂
    kelihatannya sudah sempat saya singgung di artikel Keterbukaan vs Proteksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: