Skip to content

MEMAKNAI KESALAHAN

Desember 6, 2008
tags:

taken from msdn.com

Article of this week yang rutin saya buat seharusnya dikirimkan tiap hari Rabu. Namun pada minggu ini, artikel ini baru bisa selesai pada hari Jumat. Bahkan baru bisa dikirimkan lewat email pada Jumat sore. Seingat saya, baru kali ini artikel ini molor agak lama. Ada satu-dua kali saya terlambat tapi biasanya hanya 1 hari dan hari Kamis pagi artikel tersebut sudah saya kirimkan lewat email ke rekan-rekan. Saya tidak mempunyai alasan tepat kenapa artikel ini harus molor sampai 2 hari. Kalau mau jujur, molornya artikel ini karena kelalaian saya semata. Ini mengingatkan saya bahwa banyak hal dari diri saya yang masih perlu diperbaiki. Dan saya pribadi merasa “tak enak” hati dengan kesalahan ini.

Bicara tentang kesalahan, saya lalu teringat kisah tentang Syeikh Sariy as-Saqathy (wafat 253H/967M). Ulama dan ahli sufi besar ini pernah berkata, “tiga puluh tahun aku beistighfar memohon ampun atas ucapan alhamdulillah yang aku ucapkan.” Syeikh Sariy as-Saqathy pernah menyesali sebuah kesalahan karena mengucapkan “alhamdulillah” dan kesalahan itu ia sesali selama 30 tahun! Ceritanya begini, suatu ketika pernah terjadi kebakaran di kota Baghdad , Irak. Seseorang mengabarkan hal kebakaran ini kepada Syeikh Sariy as-Saqathy dan mengatakan bahwa tokonya selamat dari amukan api. Mendengar kabar itu, spontan Syeikh Sariy as-Saqathy mengucapkan “alhamdulillah”. Ucapan ini kemudian ia sesali. Ia merasa sudah terlalu egois dengan menyebut kata itu. Ia merasa tak pantas untuk mengucapkan syukur sementara ia tahu begitu banyak orang lain yang menderita karena kebakaran itu. Beliau merasa masih terlalu cinta pada dirinya sendiri dan melupakan kesedihan orang lain. Ia merasa telah berbuat kesalahan dengan merasa senang, sementara begitu banyak orang lain yang menderita. Kesalahan inilah yang ia sesali selama 30 tahun sampai ia kemudian memaafkan dirinya atas apa yang telah ia perbuat.

Membaca kisah Syeikh Sariy as-Saqathy memberikan renungan kepada saya tentang bagaimana memaknai sebuah kesalahan. Kesalahan yang saya lakukan mungkin jauh lebih besar dari apa yang dilakukan oleh sang wali itu. Sebagai manusia, mungkin banyak sudah kesalahan yang saya lakukan. Ketika bekerja, dalam menjalankan tugas-tugas saya, mungkin banyak pula kesalahan yang saya perbuat. Mungkin pula kesalahan itu ada yang kurang berkenan pada diri rekan-rekan saya. Mungkin pula ada kata-kata yang tidak pas yang menyinggung perasaan. Atau ada tindakan yang tidak berkenan. Termasuk juga tertundanya pengiriman artikel ini kepada rekan-rekan semua. Sebagai manusia dengan segala ketidaksempurnaannya, saya pasti tak luput dari kesalahan. Maka sudah sepantasnyalah dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini, dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf atas segala kesalahan yang telah saya lakukan. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melakukan. Semoga saya dan kita semua mampu memaknai kesalahan sebagai peringatan untuk terus memperbaiki diri.

Tanjung Emas, 29 Agustus 2008

NB: artikel ini dikirim dikirim menyambut puasa Ramadhan 1429H

Sent: Friday, August 29, 2008 5:58 PM

One Comment leave one →
  1. Agustus 2, 2009 7:00 pm

    yups, sering kita berdoa meminta ampun pada Allah, ” Ya Allah ampunilah dosa-dosaku ” tapi esok kita ulangi lagi dosa tersebut,bahkan mungkin kita lakukan dengan sengaja,dan kita kemudian meminta ampun lagi,lagi lagi,
    Seolah-olah Allah kita anggap “siapa ” gitu, dan parahnya kita mengakui dan tau bahwa ini suatu kesalahan ,
    Lalu apakah salah kalau kita berdoa ” ya Tuhan ampunilah dosa-doaku ” ?? ,
    atau mungkin akan lebih tepat bila doa kita ” ya Tuhan , sesungguhnya kami telah mendzolimi diri kami…. “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: