Skip to content

DISIPLIN PECUT

November 30, 2008

photo by hotshotperformer

photo by hotshotperformer

Sewaktu ketika, saya melihat sebuah mobil mewah membuka kaca jendela dan membuang sampah dari kaca jendela itu. Saya juga pernah melihat sebuah mobil polisi atau mobil aparat pemerintah melakukan hal yang sama. Di hampir setiap pintu tol, saya dengan jelas melihat betapa banyaknya karcis tol yang berserakan di aspal akibat para pengemudi mobil yang membuang karcis tol sembarangan. Lalu saya berpikir mengapa mereka itu tidak membuang sampah pada tempatnya? Saya juga heran apa sih susahnya melengkapi mobil dengan tong sampah kecil yang mungkin harganya kurang dari 10,000. Apakah karena masalah uang? Saya yakin tidak. Banyak mobil mewah yang membuang sampah sembarangan tetapi di dalam mobilnya dilengkapi dengan TV yang harganya jutaan. Ia mampu mobil TV yang berharga jutaan, namun tidak punya tong sampah yang harganya jauh lebih murah. Problemnya bukan karena uang, tapi terkait dengan disiplin pribadi.

Beberapa waktu lalu, beberapa karyawan dari Departemen Finishing 1 dan Finishing 2 saat jam pulang melewati lorong dalam oven 3. Padahal di mulut lorong itu telah terpasang tulisan ” BUKAN JALAN UMUM. DILARANG MELEWATI JALAN INI”. Dengan tulisan yang sudah jelas-jelas begini, masih ada juga karyawan yang nekat pulang dengan melewati lorong ini. Kalau mau melihat contoh lain, sudah ada larangan untuk tidak menyeret ketika harus memindahkan produk, tetapi harus diangkat atau menggunakan trolly. Kenyataannya masih banyak sekali yang menyeret produk bahkan untuk kursi yang ringan dan kecil sekalipun. Padahal Working Instruction mengenai hal ini sudah tertempel di tiap departemen dan himbauan secara lisan sudah berkali-kali dilakukan. Contoh lainnya, masih ada pula karyawan yang memakai sandal atau sepatu namun bagian tumitnya diinjak. Hal seperti ini tidak diperkenankan bahkan sebuah memo pernah dikeluarkan terkait dengan hal ini. Ini baru beberapa contoh sederhana. 

Disiplin tidak terkait dengan pendidikan, status sosial, pangkat, kaya atau miskin. Disiplin juga tidak terkait dengan jabatan. Buktinya, polisi atau aparat pemerintah yang tiap hari dekat dengan disiplin masih bisa lalai dalam hal kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Disiplin terkait dengan kemauan dan kesadaran. 

Disiplin kita masih berbentuk disiplin ancaman. Kita hanya bisa disiplin kalau diancam dulu. Kalau tidak diancam yang nggak disiplin. Dalam berlalu lintas, kalau di sekitar traffic light itu ada polisi, bisa dipastikan semua pengendara akan disiplin untuk tidak menerobos lampu merah. Kalau tidak ada polisi, lampu merah  ya di terobos wae…! Dalam pacuan kuda, kuda harus dipecut supaya larinya tambah kencang. Jika ingin tambah kencang, pecutan harus makin keras. Semakin sering dan semakin keras pecutannya, semakin bertambah kencang pula lari sang kuda. Lalu apakah hal yang sama harus diberlakukan terhadap manusia?  

Saya mengajak agar kita bisa berdisiplin dengan kemauan dan kesadaran. Tidak seharusnya kita berdisiplin dengan “pecutan”. Kita adalah makhluk bermartabat yang dengan akalnya seharusnya mampu membiasakan diri untuk berdisiplin tanpa harus diancam dengan pecutan. Dalam banyak kejadian, ketika pengawasan kendur pelanggaran banyak terjadi. Ini contoh buruk tentang rendahnya kedisiplinan. Kita bukan manusia bebal yang hanya bisa tertib dengan “pecutan”/sanksi. Kita harus belajar berdisiplin dengan kemauan dan kesadaran. 

Sesungguhnya artikel ini tidak hanya ditujukan kepada para karyawan di divisi saya saja, tapi artikel juga ditujukan kepada diri saya pribadi sebagai pengingat untuk terus belajar memperbaiki kualitas diri.

Tanjung Emas, 19 Agustus 2008

Sent: Wednesday, August 20, 2008 6:59 PM

2 Komentar leave one →
  1. Dwi Listanto permalink
    Desember 5, 2008 9:54 am

    Kalau misalnya kita sudah lelah untuk bicara terus ingatkan operator ya… sebaiknya kita bisa lakukan peraturan perusahaan yang bicara / sanksi sesuai prosedur,kalau memang mereka sudah nggak peduli.Karena dari memo disiplin yang dikeluarkan oleh Management selama ini sepertinya ada masa kadaluwarsa buat mereka (operator) paling efektif 1 minggu setelah itu lupa…

    Dan ini PR buat kita bersama…jujur saja Fin.2 pun masih sering dapat komplain disiplin juga dan kita masih berusaha untuk memperbaiki …

    Peraturan Enggak Cuma Untuk Tontonan

    Rgds,
    Sulis

  2. Muji rahayu permalink
    Desember 5, 2008 9:55 am

    Saya juga sependapat dg Pak Sulis.
    kalau pendekatan dan bimbingan secara lisan sudah tidak mempan.mereka masih melakukan pelangaran juga. ya mau tidak mau kita harus mengeluarkan sanksi buat mereka.

    sanksi sebenarnya bukan sebagai vonis atau hukuman,tapi merupakan suatu pelajaran yg harus dipetik dan direnungkan supaya tidak terulang kembali.

    Rgds,
    MR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: