Skip to content

MASA LALU BUKAN VONIS

Agustus 19, 2008
tags:

Rabu pagi kemarin, saat liburan Isra’ Mi’raj, saya mendengar alunan lagu grup band The Rain lewat radio. The Rain adalah grup band asal Yogyakarta yang vokalisnya berkepala plontos. Saya lupa judul lagunya, namun jika membicarakan The Rain, saya tidak pernah lupa pada 2 personel The Rain, Iwan dan Ipul. Iwan, sang gitaris, adalah teman kuliah saya. Ia satu jurusan dengan saya di Teknik dan Manajemen Industri waktu kuliah di Yogya. Saat kuliah dulu, Iwan sudah aktif ngeband dengan potongan rambut keritingnya yang dibiarkan panjang, tapi malah nggak karuan menurut saya. Saya nggak begitu kaget waktu dia ternyata jadi pemusik dan buat band lalu ngetop pula.

Saya kaget luar biasa waktu tahu Ipul ternyata adalah salah satu personel The Rain. Ipul adalah bassist band The Rain. Ipul ini adalah adik kelas saya saat SD dan juga SMP di Aceh Timur. Nama lengkapnya Saiful Bahri. Orang-orang di tempat saya dulu, selalu mengucapkan huruf “f” dan dengan huruf “p”. Jadilah ia dipanggil Ipul, bukan Iful. Nama saya pun dipanggil Padli, bukan Fadhly. Ipul satu tahun di bawah saya. Saat saya pindah SD 2 kali, Ipul juga pindah SD 2 kali. Bapaknya Ipul, Pak Djumari, adalah kepala sekolah salah satu SD Pertamina Rantau di Aceh Timur. Rumahnya juga satu komplek dengan saya di komplek Pertamina. Kakaknya, Rini, satu angkatan dengan saya dan saya berteman baik dan cukup dekat. Sementara abangnya yang tertua, Ivan, adalah teman saya di Drum Band Gita Taruna Patra. Sewaktu saya SMA, saya sempat 2-3 kali ke kontrakan mereka di daerah Bantul, Yogyakarta. Sepertinya halnya kakaknya, Ipul selepas SMP melanjutkan SMA-nya di Yogya. Setelah orangtuanya pensiun, kelihatannya mereka semua pindah dari Aceh Timur ke Yogya. Ipul aktif di Pramuka dan kalau saya tidak salah ia sempat ikut Jambore International di Korea Selatan. 

Saat masih SMP, sesekali saya melihat Ipul bermain gitar. Menurut saya permainannya gitarnya dulu sih biasa saja, nggak jauh bedalah dengan saya. Padahal saya main gitarnya juga nggak jago. Suatu ketika, dalam acara perpisahan SMP, Ipul adalah pengisi acara band perpisahan sekolah. Ia bermain gitar bersama seorang lagi temannya, satu vokalis, dan satu pemain keyboard. Lagu yang dimainkan adalah lagu Kla Project, yang judulnya Tentang Kita. Saat tampil, bait pertama berlangsung mulus. Setelah itu, pemain keyboard melakukan kesalahan dan langsung masuk ke bagian refrain, sementara penyanyi masih melanjutkan ke bait kedua. Jadilah pertunjukan yang antara musik dan lagu tidak sinkron. Dan itu berlangsung hingga akhir lagu. Maka bisa dibayangkan betapa kacaunya! Penyanyi masih di bait, keyboard sudah masuk di refrain. Keyboard masih di bait, penyanyi sudah di refrain. Selama pertunjukan, penonton bersorak-sorai mengejek. Tak sedikit pula yang berteriak “HUUU, TURUUN, TURUUUN!” Selama di pentas, Ipul hanya menundukkan muka. Saya yakin, itu salah satu pertunjukkan yang paling memalukan bagi Ipul dan mungkin dia masih ingat pertunjukkan itu sampai sekarang. 

Kalau sekarang dia ada di band The Rain dan ngetop pula, maka saya mencoba mengambil pelajaran dari kisah ini. Masa lalu adalah masa lalu. Dalam kadar tertentu, kadang baik untuk di ingat sebagai nostalgia namun bukan sebagai vonis. Kalau dulu pernah gagal, bukan berarti akan gagal selamanya. Kisah si Ipul membuktikan itu. Kalau dulu dia pernah pentas dan disoraki bahkan disuruh turun, sekarang kalau dia pentas disenangi orang banyak. Mungkin juga dielu-elukan cewek-cewek, diajak foto bareng, minta salaman atau tanda tangan, bahkan mungkin minta cipika-cipiki. Kegagalan bukan halangan untuk patah semangat dan mencoba lagi. 

Jika dulu kemampuan skill gitarnya sama dengan saya, sekarang dengan saya sudah jauh. Maksudnya, saya jauh tertinggal dibanding Ipul. Saya yakin, Ipul telah lama bekerja keras untuk membuat skill gitarnya lebih yahud dan lebih jago. Ipul terus menerus memperbaiki diri, sementara skill gitarnya saya mentok di kunci C-F-G dan G-A-D. Ipul telah mengajarkan saya tentang penerapan konsep kaizen (perbaikan terus menerus) dalam peningkatan skill kemampuan individunya. Semoga kisah Ipul ini, si bassist The Rain, menginspirasi kita untuk terus berkaizen, memperbaiki diri terus menerus menjadi lebih baik.

Banyumanik, 30 July 2008 

Sent: Thursday, July 31, 2008 2:14 PM

One Comment leave one →
  1. Yuli Widiawati permalink
    Agustus 20, 2009 4:15 pm

    Hai kalo itu kamu pernah keJambore Internasional dikorea tolong dong informasinya teman2 kita Pertamina saya perwakilan dari Jakarta Utara Pertamina Yuli Widiawati

    [FS]
    Met Kenal Mbak Yuli,
    saya tidak ke jambore international di Korea. Yang ke jambore itu, Ipul, Saiful Bahri, yang sekarang jadi bassist band The Rain.

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: