Skip to content

BUKAN SOAL KALAH-MENANG

Agustus 18, 2008

Sekitar 2 minggu lalu, di awal bulan Juli, ada seorang ibu yang bercerita tentang cucunya yang akan masuk SD. Si ibu khawatir kalau cucunya tidak bisa diterima di SD yang terletak tak jauh dengan rumahnya. Ia sangat ingin cucunya masuk SD tersebut karena selain dekat, SD itu juga SD favorit. Sayangnya umur si cucu 5 tahun 10 bulan, padahal syaratnya SD itu menerima murid dengan umur 6 tahun ke atas. Maka si cucu masuk dalam daftar tunggu (waiting list). Ada 40 orang calon murid yang masuk dalam waiting list dan si cucu ada di urutan 36!

Maka bisa dibayangkan betapa khawatirnya si ibu itu. Supaya cucunya tetap diterima di SD favorit tersebut, si ibu mendatangi rumah guru di SD itu untuk meminta bantuan si guru agar cucunya “diloloskan” diterima di SD itu. Si guru mengatakan kalau kasus seperti ini agak sulit, perlu level yang lebih tinggi yang mengurusnya. Selain itu si guru juga sudah banyak mendapat titipan dari orang tua yang lain. Si guru menyarankan agar si ibu itu menemui kepala sekolah. 

 

 

Selang beberapa hari kemudian, si ibu itu bercerita lagi. Ia sekarang lega karena cucunya telah diterima di SD favori itu. “Pendekatan”nya ke kepala sekolah berhasil. Tentunya tidak gratis! Ia harus menyerahkan uang pelicin agar cucunya diterima. “Alhamdulillah, akhirnya cucu saya diterima,” demikian katanya bahagia. Lalu muncul pertanyaan, jika cucunya diterima, bagaimana nasib calon murid lain yang usianya sudah 6 tahun atau lebih dan tidak masuk dalam waiting list? Jumlah murid dibatasi sehingga jika ada murid waiting list yang diterima, pasti ada murid lain yang tidak masuk waiting list yang harus terdepak. Si ibu itupun menjawab, “Wah, kalau tentang itu saya nggak tahu, ya. Itu urusan kepala sekolah!”

Cerita di atas adalah kisah yang mungkin sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Saya hanya berfikir, betapa malangnya nasib murid yang tergusur, padahal di umurnya lebih dari 6 tahun dan sebenarnya ia lebih berhak untuk diterima di sekolah itu. Bagaimana seandainya si murid yang tergusur itu orang miskin, orang tak berpunya, dan akhirnya gagal sekolah. Kesempatannya untuk bersekolah dihancurkan oleh orang lain yang sebenarnya tidak berhak, namun dengan uang ia mampu “membeli” kesempatan dan mempengaruhi kepala sekolah untuk merubah keputusan. Betapa jahatnya si ibu dan si kepala sekolah itu. Ketika cucunya diterima, ia bisa lega dan tersenyum bahagia. Ia pun mengucap alhamdulillah, puji syukur kepada tuhan. Tidakkah ia menyadari bahwa ia tersenyum di atas penderitaan orang lain? Tidakkah ia sadar kata alhamdulillah itu sebenarnya tidak pantas diucapkan atas tindakan yang ia lakukan? Tuhan tidak pernah berharap manusia memujiNya saat manusia melakukan tindakan tercela.

Hal seperti kisah di atas bisa jadi terjadi dalam lingkungan kerja. Demi karir bagus, demi jabatannya yang tinggi, atau demi gengsi ada orang yang rela untuk menjilat ke atas, menginjak ke bawah, menyikut orang di kanan-kirinya demi kepentingan pribadinya. Jabatan dan kekuasan yang mereka miliki digunakan untuk menguntungkan dirinya sendiri tanpa peduli apakah itu menyengsarakan dan merugikan orang lain. Bagi mereka, proses mencapai sesuatu bukanlah hal penting. Mereka mengejar hasil. Hasil adalah segalanya! Mereka lupa, kita bekerja secara team. Dalam team, ego pribadi seringkali harus dikalahkan demi kepentingan bersama. Tidaklah mungkin kerjasama terjadi jika seseorang mau menang sendiri.

Team yang solid butuh orang yang tidak egois dan tidak akan membiarkan reputasinya hancur dengan menghalalkan segala cara. Ibarat sebuah pertandingan, kita harus menang dengan terhormat dan kalah dengan terhormat pula. Semoga kita dijauhkan dari sifat menjilat, menginjak, merugikan orang lain, hanya demi kepentingan diri sendiri.

Tanjung Emas, 22 Juli 2008

Sent: Wednesday, July 23, 2008 1:15 PM

8 Komentar leave one →
  1. Muji Rahayu permalink
    Desember 5, 2008 9:35 am

    Pak fadhly,

    kalau tidak salah article dibawah ini sama dengan article waktu bulan mei kemarin dg judul ‘ Bibit kacang Hijau yg tak bertumbuh ” dimana kedua article tersebut membahas tentang nilai moral manusia.

    yang pingin saya tanyakan disini, bagaimana cara kita untuk menghadapi orang-orang yg mempunyai sifat / karakter seperti itu ( egois,menjilat,menginjak,tidak jujur,menyikut orang di kanan kirinya,merugikan orang lain ) demi kepentingan diri sendiri ?

    karena jujur saja pasti kita tidak akan nyaman dan tenang untuk bekerja dan bekerja sama kalau kita berada dilingkungan kerja yg orang-orangnya mempunyai sifat seperti itu ( tidak jujur,egois,penjilat )

    Dari sisi Psikologi, Apakah ada kaitanya orang yg melakukan dan mempunyai sifat tsb karena dia mempunyai ambisi yg besar ?ataukah sifat itu sudah ada dan tumbuh dari diri pribadi orang itu sendiri?

    thanks,
    MR

    [FS]
    Pertanyaan begini sudah saya duga akan muncul dan saya agak berat juga menjawabnya. Saat saya menulis article “Bukan Soal Kalah-Menang”, setelah artikel itu selesai cukup lama saya berfikir untuk mengirimkannya. Pertimbangannya, karena apa yang ditulis itu belum tentu saya telah menjauhi sifat-sifat itu dengan sempurna. Tapi saya putuskan untuk mengirimkan artikel itu karena pada dasarnya pesan artikel itu juga ditujukan ke saya juga. Selain itu artikel itu juga bicara team work, kerja team dimana koordinasi, toleransi, dan komitment mutlak diperlukan.

    Untuk yang terkait dengan moral, saya lebih melihat ke diri saya sendiri semoga saya dijauhkan dari sifat menjilat ke atas, menginjak ke bawah. Pelaksanaannya memang tidak semudah mengucapkannya, tapi harus dicoba terus. Dan mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari hal-hal tercela.

    Anggap ini dakwah buat saya dan untuk semua biar divisi 2 tambah kompak, tambah erat, dan seperti kata Pak Sulis, bisa jadi SUPERTEAM.

  2. Dwi Listanto permalink
    Desember 5, 2008 9:36 am

    Pak Fadhly,
    Orang :-P~ ini mungkin hampir sama dengan si bayi dengan genetic familial dysautonomia hidupnya hanya akan bertahan beberapa tahun karena tubuhnya yang tidak mampu mendeteksi sesuatu yang salah dalam dirinya. (Article Sakit adalah manfaat ) .

    Rgds,
    Sulis

  3. T Bayu Santoso permalink
    Desember 5, 2008 9:38 am

    Sifat egois,menjilat,menginjak,tidak jujur,menyikut orang di kanan kirinya,merugikan orang lain pasti ada dan terjadi dikehidupan kita, dari hal hal tersebut akan keluar pertanyaan

    Apakah kita akan egois ?
    Apakah kita mau dijilat ?
    Apakah kita mau menginjak ?
    Apakah kita mau tidak jujur ?
    Apakah kita mau menyikut kanan kiri ?

    Semua pertanyaan yang keluar merupakan renungan bagi kita apakah kita sudah menjawab pertanyaan itu

    MN
    Bayu

  4. Muji Rahayu permalink
    Desember 5, 2008 9:40 am

    Kita memang harus sadar manusia memang tidak sempurna dan kesempurnaan hanya milik Allah dan pasti kita masih mempunyai sifa-sifat yg jelek.

    Semoga saja kita semua dijauhkan dari sifat-sifat tercela,dan kita harus berusaha untuk itu. Kesuksesan sebuah team karena adanya komukasi,kerjasama yg baik,saling membantu,tidak egois,mau menang sendiri.

    dan saya pernah merasakan masa- masa dimana situasi kerja begitu nyaman,tenang dan damai. karena saat itu mereka berfikiran sebagai SUPERTEAM bukan SUPERMAN dan berkompetisi secara sehat.

    Rgds,
    MR

    [FS]
    Tidak ada yang salah dengan motivasi dan ambisi. Saya mengartikan ambisi sebagai sebuah keinginan untuk mencapai suatu hal yang positif. Cuma motivasi ini harus dikawal dengan etika, norma, agama, dan hukum. Jika tidak, motivasi bisa jadi hal yang berbahaya.

    Motivasi ingin mendapat uang banyak, itu positif. Tapi jika ingin dapat uang lalu merampok, mencuri, korupsi, menyuap, ini berbahaya. Motivasi bekerja untuk berprestasi tinggi juga baik, tapi kalau ingin berprestasi dengan menghalalkan segala cara, ini juga berbahaya. Bagi saya tidak ada yang salah dengan motivasi selama dikawal dengan norma, etika, agama, dan hukum. Nurani kita akan menjawab apakah motivasi yang kita lakukan itu benar atau salah.

    Inilah yang saya maksud dengan hasil itu penting, namun proses jauh lebih utama. Orang yang memanipulasi (data, uang, dsb) karena ia lebih mengutamakan hasil tapi melupakan proses. Itulah mengapa pendekatan yang saya dan kita lakukan bersama, lebih pada pendekatan proses. Jika proses kita sudah benar, output juga akan mengikuti. Hal yang juga berlaku pada operational pekerjaan sehari-hari.

  5. Muji Rahayu permalink
    Desember 5, 2008 9:42 am

    dulu,dimana orang-orangnya saat itu enak untuk diajak kerjasama,baik dan kompak. Karena disini kita bicara masalah moral dan sikap. Lingkungan dan situasi kerja yg enak akan membawa kenyaman dalam bekerja.

    menurut saya kerjaan yg sulit dan banyak tidak masalah dan bagi saya itu malah jadi sebuah tantangan yg harus dihadapi. karena kita harus tahu semakin tahun pasti Perusahaan akan terus berkembang dan maju. mau tidak mau kita harus terus mengikuti perkembangan itu.

    regards,
    MR

    [FS]
    Satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Artinya perubahan selalu terjadi. Intinya adalah bagaimana mensikapi perubahan. Untuk itu mari kita melihat ke depan. Nostalgia dan masa lalu sudah lewat, sudah terjadi, dan sudah tidak bisa dirubah. Masa depan bisa dirubah atau diarahkan. Untuk itu mari melihat ke depan.

    Terhadap hal-hal yang belum sempurna yang ada di sekitar/di departemen kita, maka itu adalah tantangan buat kita untuk memperbaikinya. Jika dulu suasananya lebih kompak, maka sudah menjadi kewajiban para pemimpin untuk menggunakan authority dan kekuasaannya untuk membuat team work yang kompak. Yang penting tiap orang harus punya spirit kaizen, perbaikan terus menerus. Dan inti dan spirit kaizen itu adalah menatap (konsep) ke depan. Dan apa yang sedang kita lakukan dengan kaizen team termasuk pengiriman article of this week secara berkala adalah bagian dari usaha dan komitment saya untuk pembentukan team work solid.

  6. Suprayitno permalink
    Desember 5, 2008 9:44 am

    Sangat setuju dgn pendapat rekan2 smua,

    sedikit tambahan saja, Lebih baik kita intropeksi diri apa yg sdh kita lakukan dan apa yg akan kita lakukan utk tim kita, Dan sebaiknya kita penuhi dulu kewajiban kita disini sbg apa, menurut porsinya masing2.

    yt

  7. Muji Rahayu permalink
    Desember 5, 2008 9:48 am

    Sayapun mempunyai sebuah cerita yg membuat saya termotivasi untuk terus berkaizen.

    Waktu kuliah diantara teman-teman mungkin sayalah yg mempunyai kerjaan yg sudah mapan dibandingkan teman-teman kuliah saya yg lainnya. Waktu itu jabatan saya sudah SPI sedangkan temanku yg lainnya hanya sbg pelayan toko,karyawan Pabrik,SPG,dan bagian gudang. Tapi karena mereka mempunyai keinginan untuk maju,memperbaiki penghasilan dan hidupnya ke depan kelak.

    Saya masih ingat kalau pas mau Semesteran, gak Sombong nih pasti saya orang yg paling dikejar-kejar teman-teman untuk dipinjami uang untuk membayar uang SPP dan Semesteran.maklumlah sebagian besar mereka memang anak orang biasa dan mereka kuliah atas biaya sendiri.

    Beruntunglah saat itu uangku cukup buat meminjami mereka uang untuk membayar uang SPP dan Semesteran walau mereka cuma pinjam rata-rata Rp.300 rb dan biasanya mereka mengembalikan 1 bulan kemudian. 3 tahun kemudian setelah kelulusan kami dari tahun 2005 ada berita yg membuat saya terkejut dan kagum.

    Salah satu dari teman kuliah saya yg namanya Eric Witono telah bekerja di Banda Aceh sebagai Akuntan Keuangan Daerah. gajinya mungkin sudah melebihi saya yg sudah bekerja 14 tahunan dibandingkan dia yg baru bekerja 3 tahun berjalan. dengan Fasilitas dapat mes,mobil dan pulsa selama dia bekerja disana.

    Tidak bisa saya bayangkan dulu waktu kuliah dia cuma naik vespa kuno tahun 70an warna kuning suka mogok kalau pas mau pulang kuliah malam. Kalau Lebaran dia pasti pulang kesemarang dan tidak lupa main ke rumahku dan kami sering cerita-cerita waktu kuliah dulu.

    Saya dan dia memang beda jurusan,dia ambil Akuntansi dan saya Manajemen tapi kami bersahabat baik. Tapi kadang ada mata pelajaran yg sama yg mengharuskan kami sekelas ambil mata pelajaran itu.dan hal itulah yg membuat kami jadi akrab.

    Yach…saya mulai berfikir,selama ada kesempatan,kemauan dan bekerja keras pasti bisa dan mampu untuk merubah hidup ini menjadi lebih baik.

  8. Dwi Listanto permalink
    Desember 5, 2008 9:49 am

    Mbak Muji,
    Setiap individu pasti ingin merubah hidup /nasib bisa lebih baik,tinggal bagaimana dalam prosesnya dan tiap orang pasti juga akan berbeda dalam melaksanakan.

    Dan mbak muji termasuk orang yang masih beruntung . Bisa kuliah ,SPI dan masih bisa ngutangi lagi …juga tanpa bunga to mbak..he..he

    kita berharap semua semangat dan motivasi ini juga kita sampaikan juga pada semua teman-teman operator khususnya Divisi2 untuk bersama-sama ber-Kaizen dan kita wujudkan dalam produktivitas ..

    rgds,
    Sulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: